MENJAWAB
CONTOH KASUS
Masalah: “Apakah ada hubungan antara
sikap pemilih pemula terhadap partai politik dengan sikap orang tua terhadap
partai politik?”
Instrumen: Sikap orang tua saya terhadap
PAN?
a.
SS
b. S
c. CS d. TS e. STS
Sampel: Dipilih 100 siswa SMU
Jawaban:
Pada teknik perolehan data, terdapat
inkonsistensi yakni instrumen yang digunakan hanya mengacu pada pertanyaan
sikap orang tua pemilih pemula terhadap partai politik, tanpa mempertanyakan
hal yang mempengaruhi sikap pemilih pemula.
Sebuah kuesioner baru boleh digunakan
sebagai alat pengumpul data dalam penelitian apabila tela memenuhi persyaratan
validitas dan reabilitas instrumen.
Validitas ialah sejauh mana alat ukur mampu
dengan tepat untuk mengukur apa yang diukur.
Reabilitas adalah tingkat konsistensi
alat ukur jika digunakan lebih dari satu kali. Suatu alat ukur dikatakan
reliable apabila jika dilakukan pengukuran berulang kali menghasilkan data yang
sama.
RISET
MEDIA MASSA
Terdapat
dua sifat khalayak yang terkena dampak sebagai pengonsumsi media massa.
Pertama, khalayak bersifat aktif. Ini berarti khalayak dianggap mampu memilih
informasi mana yang ingin ia terima atau tolak. Tingkat selektivitas yang
tinggi memengaruhinya untuk memilih program media apa yang ia sukai. Media
dalam sifat ini dianggap mempunyai pengaruh yang terbatas.
Sedangkan
sifat kedua ialah khalayak bersifat pasif. Media massa berkuasa dan memiliki
kekuatan besar mempengaruhi khalayak yang tidak berdaya. Pola pikir dan sikap
khalayak dibentuk sedemikian rupa oleh media. Pesan media yang sama diasumsikan
akan memperoleh dampak yang sama bagi khalayak.
MODEL
AGENDA SETTING
·
Deskripsi
Ditemukan
oleh Mc Comb dan Donald L. Shaw sekitar tahun 1968, teori ini berasumsi bahwa
media mempunyai kemampuan mentransfer isu untuk mempengaruhi agenda publik.
Khalayak akan menganggap suatu isu itu penting karena media menganggap isu itu
penting juga (Griffin, 2003, h. 490). Kesamaan teori ini dengan teori peluru
yaitu menganggap media mempunyai kekuatan mempengaruhi khalayak. Bedanya, teori
peluru memfokuskan pada sikap (afektif), pendapat atau bahkan perilaku. Agenda
setting memfokuskan pada kesadaran dan pengetahuan (kognitif).
Agenda
setting akhirnya berkembang dan banyak riset dilakukan untuk membuktikan
hipotesis teori ini. Pada 1972 misalnya, teori ini digunakan untuk meriset efek
kampanye presiden di North California. Hasilnya, media cetak terbukti mendukung
hipotesis riset agenda setting, sedangkan media elektronik hasilnya tidak
mendukung. Kurt Lang pada 1983 juga telah melakukan pengujian yang sama,
hasilnya mereka menyimpulkan bahwa pemberitaan media memang menjadi variabel
penentu yang memengaruhi apa yang dianggap penting dan dibicarakan publik.
Menurut
Kriyantono (2009), pada awal perkembangannya, riset agenda setting lebih banyak
murni kuantitatif. konsep – konsep seperti agenda media dan agenda publik,
dalam tradisi kuantitatif dioperasionalisasikan sebagai susunan isu – isu yang
dianggap penting di masyarakat., sehingga bisa diukur secara kuantitatif. namun
dalam perkembangannya, agenda setting digabung dan dilengkapi dengan studi
kualitatif, baik sebagai pelengkap studi awal, analisis proses maupun efek
lanjutan.
Stepehen
W. Little John (1996, h.361) mengutip Rogers & Dearing mengatakan bahwa
fungsi agenda setting merupakan proses linear yang terdiri dari tiga bagian.
Pertama, agenda media itu sendiri harus disusun oleh awak media. Kedua, agenda
media dalam beberapa hal memengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik
atau naluri publik terhadap pentingnya isu yaitu, yang nantinya memengaruhi
agenda kebijakan. Ketiga, agenda kebijakan (policy) adalah apa yang dipikirkan
para pembuat kebijakan publik yang dianggap penting oleh publik. Karena itu,
riset yang menggunakan model ini harus mengkaji ketiga hal tersebut.
Werner
Severin & James W. Tankard dalam buku Communication Theories, Origins,
Methods, Uses in The Mass Media (225) menyampaikan dimensi – dimensi tiga
agenda di atas, yaitu:
1.
Agenda
media, dimensi – dimensinya:
a.
Visibialitas
(visibility), yaitu jumlah dan tingkat menonjolnya suatu berita.
b.
Tingkat
menonjol bagi khalayak (audience salience), yakni relevansi isi berita dengan
kebutuhan khalayak.
c.
Valensi
(valence), yakni menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi
suatu peristiwa.
2.
Agenda
Publik
a.
Keakraban
(familiarity), yakni derajat kesadaran khalayak akan topic tertentu.
b.
Penonjolan
pribadi (personal salience), yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri
pribadi.
c.
Kesenangan
(favorability), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topic berita.
3.
Agenda
Kebijakan
a.
Dukungan
(support), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b.
Kemungkinan
kegiatan (likelihood of action), yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan
kegiatan ynag diibaratkan.
c.
Kebebasan
bertindak (freedom of action), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan
pemerintah.
·
Cara Penelitian
Agenda setting
tidak menutup kemungkinan memadukan riset secara kuantitatif dan kualitatif
yang membuat riset akan semakin mendalam dan semakin baik. Menurut Subiakto
(2005) dikenal istilah agenda dinamics, yakni penggabungan yang bertujuan untuk
mengetahui bagaimana proses terbentuknya agenda media dan bagaimana pula
selanjutnya agenda media mempengaruhi agenda publik.
Gambaran model
agenda setting dalam Kriyantono, 2009.
Agenda Media ® Agenda Publik ® Agenda Policy
·
Mengapa Penting
Diteliti?
Model ini
penting untuk diterapkan dalam penelitian untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh media massa pada khalayak yang diasumsikan bersifat pasif dalam
menyikapi pesan, di samping itu kita dapat melihat bagaimana hubungan agenda
media dengan opini publik yang terbentuk terutama terkait kebijakan pemerintah.
MODEL
PELURU
·
Deskripsi
Pada
awal kemunculannya, riset komunuikasi banyak menggunakan model peluru ini yang banyak
ditemukan pada riset mengenai pengaruh atau efek media terhadap khalayak. Berasumsi
bahwa khalayak bersifat pasif dan pasrah menerima terpaan media yang dianggap
mempunyai pengaruh yang kuat (powerful effect). Karena itu sering dijumpai pada
riset eksperimen yang berupaya menerangkan pengaruh variabel yang satu terhadap
yang lain.
Disebut peluru
karena seakan – akan komunikasi ditembakkan pada khalayak dan khalayak tidak
dapat menghindar. Proses ini juga disebut teori jarum hipodermik, sebab seolah
disuntikkan dalam tubuh pasien (hypodermic needle theory). Si pasien kemudian
tidak menyadari apalagi berkuasa menghindar masuknya obat yang disuntikkan iu.
Khalayak dianggap sebagai entitas yang pasif dan terbentuk akibat terpaan pesan
media. Karena itu sifat khalayak adalah homogen dan khalayak akan bereaksi yang
sama terhadap pesan media.
·
Contoh Cara
Penelitian
Gambaran Model
Peluru menurut Kriyantono, 2009:
Variabel Komunikasi ® Variabel Antara ® Variabel Efek
Contoh variabel
komunikasi ialah kredibilitas komunikator, karakteristik audience da nisi
pesan. Sedangkan contoh variabel antara misalnya perhatian, penerimaan. Contoh
variabel efek yakni kognitif, afektif maupun konatif.
Beberapa riset
yang menggunakan model ini antara lain; “pengaruh iklan politik pemilu di TV
dengan sikap pemilih”; “Pengaruh iklim komunikasi terhadap kepuasan
organisasi,” “Pengaruh kredibilitas suara Surabaya terhadap kepercayaan
khalayak akan informasi jalan raya,” “Korelasi frekuensi menonton berita dengan
tingkat partisipasi politik,” dan sebagainya.
·
Mengapa Penting
Diteliti?
Model ini
penting untuk diterapkan dalam penelitian untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh media massa pada khalayak yang diasumsikan bersifat pasif dalam
menyikapi pesan, terutama terhadap sikap individual. Selain pengaruh, peneliti
dapat mengungkapkan korelasi antara individu sebagai bagian khalayak media
dengan dampak yang diberikan pada sekitarnya.
MODEL
USES & GRATIFICATION
·
Deskripsi
Riset
uses & gratification berangkat dari pandangan bahwa komunikasi khususnya
media massa tidak mempunyai kekuatan memengaruhi khalayak, disini khalayak
bersifat aktif memilih informasi. Inti teori uses & gratification pada
dasarnya adalah khalayak menggunakan media massa berdasarkan motif – motif
tertentu. Media dianggap berusaha memenuhi motif khalayak. Jika motif ini
terpenuhi maka kebutuhan khalayak akan terpenuhi. Pada akhirnya media yang
mampu memenuhi kebutuhan khalayak disebut media yang efektif.
Konsep
dasar teori ini menurut para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumer, dan Michael
Gurevitch, adalah meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial,
yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber – sumber lain,
yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada
kegiatan lain, dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat – akibat lain,
barangkali termasuk juga yang tidak kita inginkan (Rakhmat, 1994: 205).
·
Contoh Cara
Penelitian
Gambaran model
uses & gratification menurut Kriyantono, 2009:
Anteseden ® Motif ® Penggunaan Media ® Efek
Ada berbagai macam riset yang berangkat
dari model uses & gratification ini. Misalnya, penelitian: “Pengaruh
tingkat pendidikan terhadap frekuensi menonton tayangan berita”, “Korelasi
tingkat ekonomi dengan preferensi terhadap program TV”.
Mengapa
Penting Diteliti?
Model ini penting diterapkan
dalam penelitian sebab mengasumsikan bahwa khalayak bersifat aktif dalam
memilih pesan apa yang ingin ia terima. Penelitian ini membuktikan anggapan
bahwa media berusaha memenuhi motif khalayak. Dan seberapa efektifkah pemenuhan
kebutuhan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA:
Kriyantono,
Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset
Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Grup