09/03/15


MENJAWAB CONTOH KASUS
Masalah: “Apakah ada hubungan antara sikap pemilih pemula terhadap partai politik dengan sikap orang tua terhadap partai politik?”
Instrumen: Sikap orang tua saya terhadap PAN?
a.       SS     b. S    c. CS    d. TS   e. STS
Sampel: Dipilih 100 siswa SMU

Jawaban:
Pada teknik perolehan data, terdapat inkonsistensi yakni instrumen yang digunakan hanya mengacu pada pertanyaan sikap orang tua pemilih pemula terhadap partai politik, tanpa mempertanyakan hal yang mempengaruhi sikap pemilih pemula.
Sebuah kuesioner baru boleh digunakan sebagai alat pengumpul data dalam penelitian apabila tela memenuhi persyaratan validitas dan reabilitas instrumen.
Validitas ialah sejauh mana alat ukur mampu dengan tepat untuk mengukur apa yang diukur.
Reabilitas adalah tingkat konsistensi alat ukur jika digunakan lebih dari satu kali. Suatu alat ukur dikatakan reliable apabila jika dilakukan pengukuran berulang kali menghasilkan data yang sama.

RISET MEDIA MASSA
            Terdapat dua sifat khalayak yang terkena dampak sebagai pengonsumsi media massa. Pertama, khalayak bersifat aktif. Ini berarti khalayak dianggap mampu memilih informasi mana yang ingin ia terima atau tolak. Tingkat selektivitas yang tinggi memengaruhinya untuk memilih program media apa yang ia sukai. Media dalam sifat ini dianggap mempunyai pengaruh yang terbatas.
            Sedangkan sifat kedua ialah khalayak bersifat pasif. Media massa berkuasa dan memiliki kekuatan besar mempengaruhi khalayak yang tidak berdaya. Pola pikir dan sikap khalayak dibentuk sedemikian rupa oleh media. Pesan media yang sama diasumsikan akan memperoleh dampak yang sama bagi khalayak.


MODEL AGENDA SETTING
·         Deskripsi
            Ditemukan oleh Mc Comb dan Donald L. Shaw sekitar tahun 1968, teori ini berasumsi bahwa media mempunyai kemampuan mentransfer isu untuk mempengaruhi agenda publik. Khalayak akan menganggap suatu isu itu penting karena media menganggap isu itu penting juga (Griffin, 2003, h. 490). Kesamaan teori ini dengan teori peluru yaitu menganggap media mempunyai kekuatan mempengaruhi khalayak. Bedanya, teori peluru memfokuskan pada sikap (afektif), pendapat atau bahkan perilaku. Agenda setting memfokuskan pada kesadaran dan pengetahuan (kognitif).
            Agenda setting akhirnya berkembang dan banyak riset dilakukan untuk membuktikan hipotesis teori ini. Pada 1972 misalnya, teori ini digunakan untuk meriset efek kampanye presiden di North California. Hasilnya, media cetak terbukti mendukung hipotesis riset agenda setting, sedangkan media elektronik hasilnya tidak mendukung. Kurt Lang pada 1983 juga telah melakukan pengujian yang sama, hasilnya mereka menyimpulkan bahwa pemberitaan media memang menjadi variabel penentu yang memengaruhi apa yang dianggap penting dan dibicarakan publik.
            Menurut Kriyantono (2009), pada awal perkembangannya, riset agenda setting lebih banyak murni kuantitatif. konsep – konsep seperti agenda media dan agenda publik, dalam tradisi kuantitatif dioperasionalisasikan sebagai susunan isu – isu yang dianggap penting di masyarakat., sehingga bisa diukur secara kuantitatif. namun dalam perkembangannya, agenda setting digabung dan dilengkapi dengan studi kualitatif, baik sebagai pelengkap studi awal, analisis proses maupun efek lanjutan.
            Stepehen W. Little John (1996, h.361) mengutip Rogers & Dearing mengatakan bahwa fungsi agenda setting merupakan proses linear yang terdiri dari tiga bagian. Pertama, agenda media itu sendiri harus disusun oleh awak media. Kedua, agenda media dalam beberapa hal memengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau naluri publik terhadap pentingnya isu yaitu, yang nantinya memengaruhi agenda kebijakan. Ketiga, agenda kebijakan (policy) adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik yang dianggap penting oleh publik. Karena itu, riset yang menggunakan model ini harus mengkaji ketiga hal tersebut.
            Werner Severin & James W. Tankard dalam buku Communication Theories, Origins, Methods, Uses in The Mass Media (225) menyampaikan dimensi – dimensi tiga agenda di atas, yaitu:
1.      Agenda media, dimensi – dimensinya:
a.       Visibialitas (visibility), yaitu jumlah dan tingkat menonjolnya suatu berita.
b.      Tingkat menonjol bagi khalayak (audience salience), yakni relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak.
c.       Valensi (valence), yakni menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.
2.      Agenda Publik
a.       Keakraban (familiarity), yakni derajat kesadaran khalayak akan topic tertentu.
b.      Penonjolan pribadi (personal salience), yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi.
c.       Kesenangan (favorability), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topic berita.
3.      Agenda Kebijakan
a.       Dukungan (support), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b.      Kemungkinan kegiatan (likelihood of action), yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan kegiatan ynag diibaratkan.
c.       Kebebasan bertindak (freedom of action), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.  

·         Cara Penelitian
Agenda setting tidak menutup kemungkinan memadukan riset secara kuantitatif dan kualitatif yang membuat riset akan semakin mendalam dan semakin baik. Menurut Subiakto (2005) dikenal istilah agenda dinamics, yakni penggabungan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya agenda media dan bagaimana pula selanjutnya agenda media mempengaruhi agenda publik.
Gambaran model agenda setting dalam Kriyantono, 2009.
            Agenda Media ® Agenda Publik ® Agenda Policy
·         Mengapa Penting Diteliti?
Model ini penting untuk diterapkan dalam penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh media massa pada khalayak yang diasumsikan bersifat pasif dalam menyikapi pesan, di samping itu kita dapat melihat bagaimana hubungan agenda media dengan opini publik yang terbentuk terutama terkait kebijakan pemerintah.

MODEL PELURU
·         Deskripsi
Pada awal kemunculannya, riset komunuikasi banyak menggunakan model peluru ini yang banyak ditemukan pada riset mengenai pengaruh atau efek media terhadap khalayak. Berasumsi bahwa khalayak bersifat pasif dan pasrah menerima terpaan media yang dianggap mempunyai pengaruh yang kuat (powerful effect). Karena itu sering dijumpai pada riset eksperimen yang berupaya menerangkan pengaruh variabel yang satu terhadap yang lain.
Disebut peluru karena seakan – akan komunikasi ditembakkan pada khalayak dan khalayak tidak dapat menghindar. Proses ini juga disebut teori jarum hipodermik, sebab seolah disuntikkan dalam tubuh pasien (hypodermic needle theory). Si pasien kemudian tidak menyadari apalagi berkuasa menghindar masuknya obat yang disuntikkan iu. Khalayak dianggap sebagai entitas yang pasif dan terbentuk akibat terpaan pesan media. Karena itu sifat khalayak adalah homogen dan khalayak akan bereaksi yang sama terhadap pesan media.
·         Contoh Cara Penelitian
Gambaran Model Peluru menurut Kriyantono, 2009:
Variabel Komunikasi ® Variabel Antara ® Variabel Efek

Contoh variabel komunikasi ialah kredibilitas komunikator, karakteristik audience da nisi pesan. Sedangkan contoh variabel antara misalnya perhatian, penerimaan. Contoh variabel efek yakni kognitif, afektif maupun konatif.
Beberapa riset yang menggunakan model ini antara lain; “pengaruh iklan politik pemilu di TV dengan sikap pemilih”; “Pengaruh iklim komunikasi terhadap kepuasan organisasi,” “Pengaruh kredibilitas suara Surabaya terhadap kepercayaan khalayak akan informasi jalan raya,” “Korelasi frekuensi menonton berita dengan tingkat partisipasi politik,” dan sebagainya.
·         Mengapa Penting Diteliti?
Model ini penting untuk diterapkan dalam penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh media massa pada khalayak yang diasumsikan bersifat pasif dalam menyikapi pesan, terutama terhadap sikap individual. Selain pengaruh, peneliti dapat mengungkapkan korelasi antara individu sebagai bagian khalayak media dengan dampak yang diberikan pada sekitarnya.

MODEL USES & GRATIFICATION
·         Deskripsi
            Riset uses & gratification berangkat dari pandangan bahwa komunikasi khususnya media massa tidak mempunyai kekuatan memengaruhi khalayak, disini khalayak bersifat aktif memilih informasi. Inti teori uses & gratification pada dasarnya adalah khalayak menggunakan media massa berdasarkan motif – motif tertentu. Media dianggap berusaha memenuhi motif khalayak. Jika motif ini terpenuhi maka kebutuhan khalayak akan terpenuhi. Pada akhirnya media yang mampu memenuhi kebutuhan khalayak disebut media yang efektif.
            Konsep dasar teori ini menurut para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumer, dan Michael Gurevitch, adalah meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber – sumber lain, yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain, dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat – akibat lain, barangkali termasuk juga yang tidak kita inginkan (Rakhmat, 1994: 205).
·         Contoh Cara Penelitian
Gambaran model uses & gratification menurut Kriyantono, 2009:
Anteseden ® Motif ® Penggunaan Media ® Efek
Ada berbagai macam riset yang berangkat dari model uses & gratification ini. Misalnya, penelitian: “Pengaruh tingkat pendidikan terhadap frekuensi menonton tayangan berita”, “Korelasi tingkat ekonomi dengan preferensi terhadap program TV”.
           

Mengapa Penting Diteliti?
Model ini penting diterapkan dalam penelitian sebab mengasumsikan bahwa khalayak bersifat aktif dalam memilih pesan apa yang ingin ia terima. Penelitian ini membuktikan anggapan bahwa media berusaha memenuhi motif khalayak. Dan seberapa efektifkah pemenuhan kebutuhan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA:
            Kriyantono, Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Grup




            

11/04/14

Barangkali

Barangkali aku takut
Takut larut dalam kehilangan yang akut
Kalau boleh aku menurut
Rindu ini tak jua surut

Barangkali hati telah pupus
Jauh sebelum kenangan terhapus
Sempat dulu aku terbius
Hingga ingin rasanya tercetus

Barangkali aku sadar
Belum sepenuhnya rasa pudar
Di balik hati yang mencoba tegar
Terlempar jatuh walau tak terkapar

Barangkali hati perih
Sedih, pedih, meski tak sampai merintih
Bisik ucapku tetap lirih
Serpih kasih yang masih


 Barangkali aku nekat
Sedang kau kaku dan pekat
Mengingat yang masih lekat
Diam terpaku dan terpikat

Barangkali
Kata hati ungkap lembar memori
Asal bukan curahan hati
Atau mungkin saja bisa jadi
Kali ini pun bukan pertama kali
Barangkali malah seringkali

Mungkin bisa jadi
Tanpa harus diawali
Cerita ini berakhir sendiri
Mungkin bisa jadi
Aku jauh menatap hari
Tapi tak meratapi
Bisa jadi…

Barangkali
Sekian untuk kali ini
Ujung pena sampai di garis tepi
Lembar baru telah siap menanti diisi


(Puisi terakhir masa SMA, menutup lembaran kisah lama disana)











04/08/12

Dear You,

If You ask me do I still hope on him?
I have no more
If You ask me do I still love him?
I’m afraid to say it yes
But, trying ask me what I want to him?
Tell and let him knows I’ve ever loved him
Just let him knows that
Trust me and I’ll go
Because, there’s reason
I'd say thanks,
Thanks for being my everything so far and being ever
Then, I'll understand and no more this
I hope and I wish
You bring me there
So let me.