25/09/11

Rindu

Rindu,

Ku rasa rindu ini semakin menderu

Mendesak menusuk kalbu

Memaksaku

Menjatuhkan air mataku

Ini hari Minggu

Tapi rasanya hati mendadak pilu

Meski untukku

Ini bukan minggu kelabu

Namun rindu

Telah menderaku

Mengapa kau rindu ?

Padahal baru seminggu yang lalu

Kita bertemu

Seminggu yang lalu

Ah,

Andai saja kau tahu

Sudah seminggu

Aku memimpikanmu

Dan itu

Telah mampu menyuburkan rindu

Ada apa denganku ?

Aku bukan lagi anak kelas satu

Yang harus dan memaksa ingin bertemu

Ku lepas rindu

Akhirnya aku mendengar suaramu

Kau ceritakan aku

Betapa kau juga rindu

Katamu

Ku hadir dalam mimpimu

Betapa hati ini semakin rindu

Hati ini bertambah haru

Mendengar nasihatmu

Mengingatkan pada niatku

Mencari ilmu

Rindu,

Ku ingin cepat bertemu

Memandang wajahmu

Memelukmu

Ibu,

Karena aku merindukanmu

Sunday, Sept 25th 2011 9.10am

Dear Mom, I Miss You :*

...in my falling tears...

23/09/11

Untuk Saat Ini


Untuk saat ini
Biarkan aku sendiri
Tinggalkan aku disini
Di tengah keramaian yang sepi

Untuk saat ini
Ijinkan aku sendiri
Aku tak peduli
Jika kau ingin pergi

Untuk saat ini
Aku memang ingin sendiri
Memperbaiki diri
Lebih baik lagi

Untuk saat ini
Harus kau mengerti
Ku tak ingin mencintai
Dan memberi hati

Untuk saat ini
Bukanlah kau yang pasti
Alasan aku berdiri

Untuk saat ini
Biarkan mereka berlari
Dan kuterus mengejar mimpi

Untuk saat ini
Aku belum berarti
Aku masih mencari
Sebongkah jati diri

Untuk saat ini
Dan untuk kemudian hari
Aku akan tetap menanti
Dan akan ku berikan utuh hati
Untuk mencintai
Ya… Meski,
Bukan untuk saat ini…

Sept 23rd 2011, 11:48pm
Just such an answer for me and you who asked me why



22/09/11

Kau Bukan Kekasih

Pernah aku berkata bahwa aku tak cinta
Pernah aku merasa dia bukan siapa – siapa
Aku pernah selalu menganggapnya biasa
Pernah untukku dia dan lain sama saja

Terasa berselangnya waktu
Membuat hatiku menyadari bahwa aku mencintaimu
Aku tak tahu apa yang membuat itu ada padaku
Tapi aku merasa bahwa kini aku memilikimu

Kau, kau begitu berarti lebih
Kau, kau tulis cerita tersendiri
Kau, kau yang selalu ada dalam sanubari
Kau, kau hingga kini yang terukir dalam hati

Tapi, apa semua anganku telah sia – sia
Setelah semua anganmu menjadi nyata
Kau, kau yang menganggapku terlalu dini
Kau anggap slalu anggap aku tak mengerti arti ini

Perih air mata yang basah
Terus menerus menetes luka
Aku mulai bertanya
Apa semua impianku memang fana ?

Lalu, apa kau mendengar aku menjerit ?
Jerit sakit yang menggigit
Dalam luka, dalam lara dan dalam hampa
Kemana kau kini sebenarnya ?

Dia ingin aku berkata cinta
Dia yang tak pernah mengerti tentang sebuah arti
Dia yang bahagia jika aku mencinta
Dia, dengar ! Aku mencintainya bukan tuk kekasih

Kau bukan kekasih,
Yang membuatku jatuh hati
Kau bukan kekasih,
Yang berkorban untukku lebih
Kau bukan kekasih,
Yang senantiasa mendampingi
Kau bukan kekasih,
Yang membantuku berdiri
Kau bukan kekasih,
Untuk sebuah hati perih karena kau sakiti

Dalam goresan tinta
Tak mampu untukku bercerita
Ini bukan sebuah puisi curahan hati
Ini bukan sajak tak terbalasnya kasih
Sebuah coretan tentang kisah
Ini tentang cinta, makna yang apa adanya

Untukmu cinta,
Sayang dari seorang yang kau kata tak mengerti
Kasih dari seorang yang tak pernah kau anggap berarti

Untukmu cinta,
Buat tawa dan canda
Yang dulu pernah ada
Cipta kembali menjadi nyata

Untukmu cinta,
Baca hatiku hingga kau tahu
Rasanya aku kini dan dulu

Kau memang bukan kekasih,
Tapi bagiku kau kini jauh lebih berarti
Kau dan kau
Selalu terlukis dalam sanubari
Hingga aku mati


Untukmu cinta,
Yang telah beranjak dari tempat berpijak
Ingatlah aku selalu walau sebatas hati
Ku tahu kau tetap bijak
Sampai kita berjumpa nanti

Untukmu cinta,
Rinduku selalu disisi
Cintaku selalu mengiringi
Salam cintaku selalu pada tiap sujud illahi



Created at 2nd grade Junior High School
for everyone who had been at 3rd

21/09/11

Say Hello


Well.

Hello Dear ReaDeers, jus

t like that yeah I’ll call you dear…

Now, this is it ! Welcome ho

me to my new blog design, hahahaha…

It feels like dream yaa, even though this blog has been since I was second grade in Junior High School, but there’s no publishing about this blog. And, finally… I have already finished for thinking too long about this. At this time, I’ll launch this blog !

Like as I said at my first posting that I hope this blog can be enjoyed by you and who knows it can inspire you all.

Yeah, because life is how to we share, so I’ll try to share all about story I’ve ever been. This is everything which has been done by me. And everything that you don’t know me, you’ll know here.

Actually, I’m nothing. I am not celebrity, not an actress, singer, important person may be or popular girl. I’m just ordinary girl, a civil yeah, just a high school student but wanna be extraordinary girl by her hands.

I know, every story is interesting. If you wanna share, then you tell.

What about me ? This all about me which you know and you don’t know.

So, directly… Just enjoy this writing by my hands.

Thank you, ReaDeers =)

20/09/11

From Al Muslim, With Love


Lelehkan rinduku padamu yang kini kian membeku
Tenggelam aku mengurai kisah yang dulu
Disini aku pernah memuaskan dahaga ilmu
Al Muslim, sampaikan betapa aku merindumu…

“Siapa lagi yang akan mencintai almamaternya kalau bukan kita sendiri sebagai sang pemilik almamater ?”

Kata kata itu yang sampai sekarang masih terus menerus berdengung di telingaku. Masih jelas dalam ingatan, bagaimana ustadzah yang tak pernah lelah mengingatkan kita bahwa kitalah yang harus mencintai almamater kita, kita yang semestinya bangga akan almamater kita. Kalau bukan kita siapa lagi ?

Hingga tiba saatnya, saat dimana kita yang telah diwisuda dengan predikat LULUS dan status alumni yang telah kita sandang, bukan batas waktu kita melupakan almamater. Alumni atau status apapun yang berubah, bahkan kartu pelajar tak berlaku bukan masa kadaluarsa mencintai almamater. Tak ada kata expired untuk sebuah kecintaan pada ladang ilmu yang telah mengalir dalam kehidupan kita, tak kan pernah ada kata mati untuk mencintainya.

Al Muslim, almamaterku. Untuk sebuah kenangan yang tak akan pernah hapus ditelan zaman. Separuh hidupku aku habiskan menuntut ilmu di dalamnya. Berbagai kisah bersama kawan – kawan yang pernah terangkai tak kan habis bila diuraikan. Kasih sayang dan senyuman penuh ketulusan ustadz dan ustadzah membagi ilmu pada kita anak didiknya akan selalu kurindukan.

Di Al Muslim lah, aku mendapat banyak pengalaman disamping pelajaran – pelajaran yang berharga. Belajar bukan hanya di bangku formalitas sebagai siswa namun belajar tentang kehidupan dan perjalanan menuju kedewasaan. Dan disinilah aku akan bercerita semua. Membuka kembali lembaran – lembaran penuh kisah dan makna yang tak terjangkau kedalamannya. Untuk Al Muslim tercinta.

Namaku Firdha As Zahra Usman. Firdha, begitulah aku akrab disapa. Terlahir di Pemalang, 28 Februari 1995 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara membuatku semakin bersyukur karena ayah bundaku pada akhirnya mengamanahkan ketiga buah hatinya di Al Muslim ini.

Mungkin namaku tak asing di telinga warga Al Muslim. Bukan tanpa alasan, karena sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat rasanya menghabiskan masa masa SD hingga SMP di Al Muslim. Namun di penghujung waktu, sangat singkat rasanya. Entah mengapa selalu saja jika kita berada di ujung waktu, ingin rasanya memutar ke masa yang dulu. Begitu pula saat aku berada di detik – detik terakhir menjelang pembagian ijazah selepas pengumuman kelulusan. Dan mungkin bukan hanya aku namun kawan – kawanku pun begitu.

Menghabiskan waktu enam tahun di SD Al Muslim, membuatku tak sedikitpun punya pikiran melanjutkan SMP di Al Muslim. Namun atas nasihat orang tua, aku pun patuh untuk masuk SMP Al Muslim. Ya, awalnya aku memang masuk dengan setengah hati. Namun seiring berjalannya waktu, terhapus sudah keraguanku.

Boleh dibilang, di Al Muslim inilah apa yang dulu aku pengen bisa terwujud. Misalnya aku bisa dapat pengalaman ikut berbagai lomba, mulai dari puisi, pidato bahasa inggris, da’i remaja dan jurnalistik. Pengalaman kayak gini yang belum aku dapat waktu di SD. Alhamdulillah juga aku sering dipercaya ustadzah sebagai pengisi acara berbagai event yang diselenggarakan sekolah. Kesempatan seperti inilah yang tidak mungkin aku sia – siakan.

Masa – masa SMP adalah masa – masa yang mempunyai makna tersendiri dalam hidupku. Tiga tahun bersama dua puluh empat kawan lain menorehkan lembaran cerita, tawa, canda, tangis, suka dan duka. De Niners, bagian dari lembaran kisahku di Al Muslim. Berbicara tentang pengalamanku di Al Muslim, kurang rasanya tanpa nama De Niners.

Memoriku mulai terbuka kembali mengingat kenangan bersama De Niners ini. Yang takkan mungkin terlupakan, segala bentuk kejutan manis yang sering kami rencanakan untuk ustadz/ah. Kue tart saat bunda kita, Ustadzah Mahmudah, ulang tahun. Setangkai bunga untuk ustadzah di Hari Ibu dengan iringan lagu “Kasih Ibu” oleh kami. Surprise – surprise yang tak disangka lainnya.

Banyak kisah yang tak mungkin aku torehkan satu per satu. Namun yang mungkin paling tak bisa dilupakan adalah saat detik – detik menjelang Ujian Nasional. Segala bentuk ikhtiyar kami demi kelulusan UN tak bisa lepas dari dukungan dan doa penuh ustadz/ah. Setiap malam dering ponsel kami berbunyi, missed call maupun sekedar sms ustadzah Mahmudah, ustadzah Aminah atau bahkan Ustadzah Dyah yang membangunkan kami untuk sholat tahajud. Takkan ada lagi kini….

Semangat kami pun tak pernah surut karena kami tahu di belakang kami doa dan dukungan penuh orang tua kami serta ustadz – ustadzah tak pernah luput menyertai. Segala bentuk nasihat itulah yang kini kami rindukan.

Kini aku telah duduk di bangku SMA, masa dimana kata orang adalah masa masa paling indah. Aku tercatat sebagai siswi MAN 3 Malang, dimana usahaku masuk sekolah ini juga tak lepas dari dukungan ustadzah, terutama Ustadzah Mahmudah, wali kelasku. Aku tinggal sebagai anak asrama yang dituntut untuk hidup mandiri jauh dari orang tua. Namun mentalku telah dipompa jauh sebelum aku masuk asrama. Lagi, nasihat – nasihat ustadzah lah yang aku terus ingat hingga kini.

Al Muslim,
Kata orang yang mengenalku, menganggap Al Muslim telah mendarah daging di tubuhku. Separuh perjalanan hidupku habis di Al Muslim. Al Muslim bukan hanya sekolah untukku, namun separuh jiwaku.

Aku bangga menjadi anak Al Muslim. Sekalipun orang – orang berkata miring tentangnya, namun aku tetap di baris terdepan membela almamaterku. Walaupun aku alumni, namun aku anggap aku masih dan akan tetap menjadi bagian dari keluarga Al Muslim.

Al Muslim,
Aku menggenggam harapan untuk mewujudkan cita – citamu, Khalifah Fil Ardh Rahmatan Lil Alamin… Doakan kami di tengah perjalanan ini, ustadz – uztadzahku… Doakan kami selalu…

Terima Kasih pahlawan tanpa tanda jasaku,
AL MUSLIM, WE LOVE YOU

Teriring doaku untuk almamaterku,
Dari Al Muslim lewat sebuah Cinta…

FROM AL MUSLIM, WITH LOVE…
Diselesaikan di Aula SMP Al Muslim, 24 Desember 2010
10.55 WIB

FIRDHA AS ZAHRA USMAN
ALUMNI SD AL MUSLIM 2007
ALUMNI SMP AL MUSLIM 2010
AL MUSLIM’S FAMILY EVER

for : Al Muslim Magazine
March 2011

19/09/11

Bu

Bu,

Aku tak pernah tahu apa maumu

Rasanya di matamu

Aku salah selalu

Setiap aku bertingkah laku

Bu,

Aku bosan

Kau anggap kekanak kanakan

Aku kesal

Sebal

Mungkin aku memang anak nakal

Yang tak pernah menyesal

Bu,

Aku pun sakit

Saat kau bilang sakit

Apalagi aku yang menyakitimu

Tapi bukan maksudku

Aku tak pernah ingin begitu

Bu,

Bisa apa aku

Katamu

Bisaku hanya menyakitimu

Memancing emosimu

Meluapkan amarahmu

Katamu

Aku tak pernah membahagiakanmu

Apalagi membuatmu bangga

Tersenyum bahagia

Bu,

Karenaku

Kau kecewa

Terluka

Karenaku

Kau bersedih

Hatimu perih

Karenaku

Air matamu

Itu karenaku

Bu,

Anak macam apa aku

Tak pernah berterima kasih

Hanya bisa membuatmu sedih

Bu,

Kalau kau marah padaku

Aku juga marah padamu

Aku jengkel

Tapi aku lebih marah

Pada diriku

Aku benci

Ini berulang kali terjadi

Rasanya aku ingin berteriak

Aku muak

Bu,

Siapa yang ingin menyakitimu

Tak pernah aku berniat itu

Sungguh

Aku ingin membahagiakanmu

Bu,

Siapa yang tak menginginkanmu ?

Aku tak pernah ingin membuatmu sakit

Sungguh, Bu

Bu,

Aku ingin melihatmu

Saat aku berdiri

Menerima ijazah nanti

Aku ingin kau ada

Saat aku sarjana

Aku ingin kau kau mendampingi

Saat aku menemukan jodohku nanti

Aku ingin kau yang menemani

Kala aku berjuang hidup dan mati

Menjadi wanita sejati

Menimang cucumu nanti

Bu,

Untuk kesekian kali

Aku memohon ampunanmu

Maafmu

Bu,

Jika memang

Doa anak untuk orangtua

Akan dikabulkan

Aku hanya meminta bahagia

Kedua orangtuaku

Kesehatan, umur panjang

Hingga kau bisa terus menyangiku

Selalu

Bu,

Aku bersyukur memilikimu

Meski

Kau tak seperti aku

Aku pun takkan pernah menjadimu

Menjadi seluar biasamu

Namun dalam setiap sujudku

Selalu terucap namamu

Tak kan terlewat

Meski hanya satu

Bu,

Masihkah kau marah denganku ?

Maafku

Aku belum menjadi seperti yang kau mau

Aku belum mampu

Membahagiakanmu

Maaf, Bu

Kalau perlu

Akan ku basuh kakimu

Dengan air mata penyesalanku

Maafku padamu

Maaf

Bu,

Janganlah pernah terputus

Doamu untukku

Aku, anakmu

Mungkin, harapanmu

Yang belum membanggakan

Namun kau harus tahu

Suatu hari nanti

Akan ku buat kau bangga

Memiliki aku

Meski tak sebangga

Aku memilikimu

Takkan pernah seperti itu

Doakan aku Bu,

Jalanku masih panjang

Kala aku pulang

Nasihatmu akan ku kenang

Ibu, sayang

Bu,

Aku mencintaimu

Lebih dari apapun

Hanya kau yang mengerti aku

Ku harap kau akan tetap

Mengerti aku

Redam emosimu, Bu

Karena aku akan mengerti
Pelan, perlahan

Coba kau sampaikan

Dan aku akan mengiyakan

Maaf, Bu

Bukannya aku kurang ajar

Atau tak sopan

Berucap kasar

Maaf

Bu,

Aku menyayangimu

Harus kau tahu itu

Aku tak seperti yang lain

Yang berucap sayang

Pada kekasihnya

Namun kekasihku adalah kau, Bu

Bu,

Jangan marah lagi

Aku letih

Hati semakin saja perih

Kepala panas mendidih

Bu,

Aku mau berubah

Aku bukan anak manja

Seperti katamu

Aku bisa

Menjadi dewasa

Aku akan mandiri

Memperbaiki diri sendiri

Bu,

Aku sudah sedikit lega

Walau aku tak pandai berkata

Namun setidaknya aku telah melampiaskan

Pada kertas ini untuk sebuah tulisan

Aku ingin kau tahu

Ku harap kau masih

Mau membaca hatiku,

Anakmu

Bu,

Janganlah kau sakit

Hidup masih lama

Aku masih beranjak dewasa

Belum sempurna

Aku ingin kau selalu bahagia

Baik dunia dan akhirat

Karena Allah menyayangimu

Seperti kau menyayangiku di waktu kecil

Dan selamanya

Aku tahu

Aku pun sangat mencintaimu

Cintaku hanya untukmu, Bu

Ibu

Teruntai doa teriring cinta

Jangan lagi kau marah dan bersedih hati,

Ibuku sayang

Aku menyesal

Bu,

Maaf

Aku menyakitimu

Maaf

Padahal aku

Harus kau tahu itu

Aku menyayangimu

Akan aku bahagiakan

Hidupmu selalu

Sayang, Ibuku sayang

Doakan selalu anakmu



...Robbighfirli wa liwaa lidayya warkhamhuma kama robbayani shoghiroo

Maafin Mbak Dida yaa Ma,

Mbak Dida janji bakal buat Mama bangga dan bahagia



Sweet Room, Sept 06th 2011 8:21pm

Egoisme

Aku nggak tahu apa arti secara sah kata judul di atas itu. Mau di kamus atau pengertian lainnya. Egoisme, mungkin berupa pahamnya. Tepatnya sifat egois yang biasa digunakan. Tapi setidaknya aku paham dan mengalami ke-egois-an itu sendiri atau bahkan di-egois-kan. Mungkin ini sedikit cerita yang aku alami dan bisa aku bagi denganmu.

Kenapa sebenernya seseorang bersikap egois ? Apakah dari faktor internalnya, yakni saat dia hidup dan tumbuh dalam keluarga yang memanjakannya dan memenuhi semua maunya ? Atau justtru karena faktor eksternal, dimana seseorang mulai berkembang di suatu lingkungan dan bergaul dengan teman – teman serta masyarakat luas ?

Saat seseorang mempertahankan egonya, apa yang sebenarnya ada di pikirannya ? Kenapa selalu saja muncul ambisi mempertahankan pendirian yang begitu keras untuk dilunturkan ? Salah satu masalah yang aku temui adalah soal ambisi. Banyaklah di sekitar kita yang bersikap ambisius hingga mengorbankan apa saja yang menurutnya mampu ia korbankan.

Egois. Mementingkan diri sendiri. Aku tahu mungkin bahwa dia adalah orang yang selalu diistimewakan. Istimewa di lingkungannya dan berusaha untuk membentuk dan mempertahankannya di lingkungan dia sekarang. Tapi apa perlu sikap egois itu dipertahankan ? Karena nggak cuma kita yang perlu diperhatikan, kita juga perlu memperhatikan. Gimana kitalah belajar untuk membaca keadaan lingkungan kita. Nggak harus terus menerus kita kan ?

Kita bukan seorang putri atau putra mahkota kerajaan. Kita bukan siapa – siapa. Kalaupun iya, jadilah seorang putri yang memiliki hati peri, memahami kedaan rakyatnya dan mengesampingkan egonya.

Nggak selamanya kok kita jadi nomer satu. Secara sebagai sosialis, kita hidup bersama. Mengerti apa yang teman kita mau. Bukan terus menerus minta dimengerti. Memahami bukan minta untuk dipahami. Meski begitu sulit.

Aku juga masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Aku pun bukan siapa – siapa. Tapi aku berhak belajar untuk menjadi lebih baik. Salah satunya, menyingkirkan ego, meredam emosi. Bukannya jika kita saling memahami dan pengertian itu akan menjadi lebih baik ? Yah, i hope so. And we try.

dear friends,

i know we will try. so, let's be care. not just me or you, but us =)