Kenapa sebenernya seseorang bersikap egois ? Apakah dari faktor internalnya, yakni saat dia hidup dan tumbuh dalam keluarga yang memanjakannya dan memenuhi semua maunya ? Atau justtru karena faktor eksternal, dimana seseorang mulai berkembang di suatu lingkungan dan bergaul dengan teman – teman serta masyarakat luas ?
Saat seseorang mempertahankan egonya, apa yang sebenarnya ada di pikirannya ? Kenapa selalu saja muncul ambisi mempertahankan pendirian yang begitu keras untuk dilunturkan ? Salah satu masalah yang aku temui adalah soal ambisi. Banyaklah di sekitar kita yang bersikap ambisius hingga mengorbankan apa saja yang menurutnya mampu ia korbankan.
Egois. Mementingkan diri sendiri. Aku tahu mungkin bahwa dia adalah orang yang selalu diistimewakan. Istimewa di lingkungannya dan berusaha untuk membentuk dan mempertahankannya di lingkungan dia sekarang. Tapi apa perlu sikap egois itu dipertahankan ? Karena nggak cuma kita yang perlu diperhatikan, kita juga perlu memperhatikan. Gimana kitalah belajar untuk membaca keadaan lingkungan kita. Nggak harus terus menerus kita kan ?
Kita bukan seorang putri atau putra mahkota kerajaan. Kita bukan siapa – siapa. Kalaupun iya, jadilah seorang putri yang memiliki hati peri, memahami kedaan rakyatnya dan mengesampingkan egonya.
Nggak selamanya kok kita jadi nomer satu. Secara sebagai sosialis, kita hidup bersama. Mengerti apa yang teman kita mau. Bukan terus menerus minta dimengerti. Memahami bukan minta untuk dipahami. Meski begitu sulit.
Aku juga masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Aku pun bukan siapa – siapa. Tapi aku berhak belajar untuk menjadi lebih baik. Salah satunya, menyingkirkan ego, meredam emosi. Bukannya jika kita saling memahami dan pengertian itu akan menjadi lebih baik ? Yah, i hope so. And we try.

dear friends,
i know we will try. so, let's be care. not just me or you, but us =)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar