Lelehkan rinduku padamu yang kini kian membeku
Tenggelam aku mengurai kisah yang dulu
Disini aku pernah memuaskan dahaga ilmu
Al Muslim, sampaikan betapa aku merindumu…
“Siapa lagi yang akan mencintai almamaternya kalau bukan kita sendiri sebagai sang pemilik almamater ?”
Kata kata itu yang sampai sekarang masih terus menerus berdengung di telingaku. Masih jelas dalam ingatan, bagaimana ustadzah yang tak pernah lelah mengingatkan kita bahwa kitalah yang harus mencintai almamater kita, kita yang semestinya bangga akan almamater kita. Kalau bukan kita siapa lagi ?
Hingga tiba saatnya, saat dimana kita yang telah diwisuda dengan predikat LULUS dan status alumni yang telah kita sandang, bukan batas waktu kita melupakan almamater. Alumni atau status apapun yang berubah, bahkan kartu pelajar tak berlaku bukan masa kadaluarsa mencintai almamater. Tak ada kata expired untuk sebuah kecintaan pada ladang ilmu yang telah mengalir dalam kehidupan kita, tak kan pernah ada kata mati untuk mencintainya.
Al Muslim, almamaterku. Untuk sebuah kenangan yang tak akan pernah hapus ditelan zaman. Separuh hidupku aku habiskan menuntut ilmu di dalamnya. Berbagai kisah bersama kawan – kawan yang pernah terangkai tak kan habis bila diuraikan. Kasih sayang dan senyuman penuh ketulusan ustadz dan ustadzah membagi ilmu pada kita anak didiknya akan selalu kurindukan.
Di Al Muslim lah, aku mendapat banyak pengalaman disamping pelajaran – pelajaran yang berharga. Belajar bukan hanya di bangku formalitas sebagai siswa namun belajar tentang kehidupan dan perjalanan menuju kedewasaan. Dan disinilah aku akan bercerita semua. Membuka kembali lembaran – lembaran penuh kisah dan makna yang tak terjangkau kedalamannya. Untuk Al Muslim tercinta.
Namaku Firdha As Zahra Usman. Firdha, begitulah aku akrab disapa. Terlahir di Pemalang, 28 Februari 1995 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara membuatku semakin bersyukur karena ayah bundaku pada akhirnya mengamanahkan ketiga buah hatinya di Al Muslim ini.
Mungkin namaku tak asing di telinga warga Al Muslim. Bukan tanpa alasan, karena sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat rasanya menghabiskan masa masa SD hingga SMP di Al Muslim. Namun di penghujung waktu, sangat singkat rasanya. Entah mengapa selalu saja jika kita berada di ujung waktu, ingin rasanya memutar ke masa yang dulu. Begitu pula saat aku berada di detik – detik terakhir menjelang pembagian ijazah selepas pengumuman kelulusan. Dan mungkin bukan hanya aku namun kawan – kawanku pun begitu.
Menghabiskan waktu enam tahun di SD Al Muslim, membuatku tak sedikitpun punya pikiran melanjutkan SMP di Al Muslim. Namun atas nasihat orang tua, aku pun patuh untuk masuk SMP Al Muslim. Ya, awalnya aku memang masuk dengan setengah hati. Namun seiring berjalannya waktu, terhapus sudah keraguanku.
Boleh dibilang, di Al Muslim inilah apa yang dulu aku pengen bisa terwujud. Misalnya aku bisa dapat pengalaman ikut berbagai lomba, mulai dari puisi, pidato bahasa inggris, da’i remaja dan jurnalistik. Pengalaman kayak gini yang belum aku dapat waktu di SD. Alhamdulillah juga aku sering dipercaya ustadzah sebagai pengisi acara berbagai event yang diselenggarakan sekolah. Kesempatan seperti inilah yang tidak mungkin aku sia – siakan.
Masa – masa SMP adalah masa – masa yang mempunyai makna tersendiri dalam hidupku. Tiga tahun bersama dua puluh empat kawan lain menorehkan lembaran cerita, tawa, canda, tangis, suka dan duka. De Niners, bagian dari lembaran kisahku di Al Muslim. Berbicara tentang pengalamanku di Al Muslim, kurang rasanya tanpa nama De Niners.
Memoriku mulai terbuka kembali mengingat kenangan bersama De Niners ini. Yang takkan mungkin terlupakan, segala bentuk kejutan manis yang sering kami rencanakan untuk ustadz/ah. Kue tart saat bunda kita, Ustadzah Mahmudah, ulang tahun. Setangkai bunga untuk ustadzah di Hari Ibu dengan iringan lagu “Kasih Ibu” oleh kami. Surprise – surprise yang tak disangka lainnya.
Banyak kisah yang tak mungkin aku torehkan satu per satu. Namun yang mungkin paling tak bisa dilupakan adalah saat detik – detik menjelang Ujian Nasional. Segala bentuk ikhtiyar kami demi kelulusan UN tak bisa lepas dari dukungan dan doa penuh ustadz/ah. Setiap malam dering ponsel kami berbunyi, missed call maupun sekedar sms ustadzah Mahmudah, ustadzah Aminah atau bahkan Ustadzah Dyah yang membangunkan kami untuk sholat tahajud. Takkan ada lagi kini….
Semangat kami pun tak pernah surut karena kami tahu di belakang kami doa dan dukungan penuh orang tua kami serta ustadz – ustadzah tak pernah luput menyertai. Segala bentuk nasihat itulah yang kini kami rindukan.
Kini aku telah duduk di bangku SMA, masa dimana kata orang adalah masa masa paling indah. Aku tercatat sebagai siswi MAN 3 Malang, dimana usahaku masuk sekolah ini juga tak lepas dari dukungan ustadzah, terutama Ustadzah Mahmudah, wali kelasku. Aku tinggal sebagai anak asrama yang dituntut untuk hidup mandiri jauh dari orang tua. Namun mentalku telah dipompa jauh sebelum aku masuk asrama. Lagi, nasihat – nasihat ustadzah lah yang aku terus ingat hingga kini.
Al Muslim,
Kata orang yang mengenalku, menganggap Al Muslim telah mendarah daging di tubuhku. Separuh perjalanan hidupku habis di Al Muslim. Al Muslim bukan hanya sekolah untukku, namun separuh jiwaku.
Aku bangga menjadi anak Al Muslim. Sekalipun orang – orang berkata miring tentangnya, namun aku tetap di baris terdepan membela almamaterku. Walaupun aku alumni, namun aku anggap aku masih dan akan tetap menjadi bagian dari keluarga Al Muslim.
Al Muslim,
Aku menggenggam harapan untuk mewujudkan cita – citamu, Khalifah Fil Ardh Rahmatan Lil Alamin… Doakan kami di tengah perjalanan ini, ustadz – uztadzahku… Doakan kami selalu…
Terima Kasih pahlawan tanpa tanda jasaku,
AL MUSLIM, WE LOVE YOU
Teriring doaku untuk almamaterku,
Dari Al Muslim lewat sebuah Cinta…
FROM AL MUSLIM, WITH LOVE…
Diselesaikan di Aula SMP Al Muslim, 24 Desember 2010
10.55 WIB
FIRDHA AS ZAHRA USMAN
ALUMNI SD AL MUSLIM 2007
ALUMNI SMP AL MUSLIM 2010
AL MUSLIM’S FAMILY EVER
for : Al Muslim Magazine
March 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar